Seniman

 



Pak Joni merupakan seorang content creator multitalenta yang telah menekuni dunia kreatif sejak tahun 2019. Beliau adalah sosok di balik Waton Gayong, sebuah tim beranggotakan tujuh orang sahabat yang telah berteman sejak muda, kemudian berkumpul kembali dan membentuk komunitas kreatif bernama Waton Gayeng. Mereka rutin melakukan proses syuting setiap hari Senin, termasuk mendukung podcast milik salah satu rekan. Aktivitas kreatif ini dijalankan secara santai namun konsisten, dengan konsep yang sering kali mengandalkan improvisasi saat proses syuting berlangsung.

Sebelum fokus sebagai konten kreator, beliau memiliki pengalaman panjang di dunia pertelevisian nasional. Beliau pernah bekerja di Indosiar, TransTV, dan terakhir RTV sebelum akhirnya memutuskan resign pada tahun 2019. Pengalaman tersebut membentuk pemahaman mendalam beliau tentang proses produksi konten yang baik—dimulai dari penulisan naskah, pembentukan tim kreatif dan produser, hingga pengaturan kru teknis seperti kameramen. Beliau juga menekankan pentingnya menetapkan anggaran serta perizinan lokasi sebelum produksi berjalan.

Bagi beliau, menjadi content creator bukan semata untuk mencari materi. Kenikmatan utama bagi beliau adalah bisa berkarya, berkumpul dengan sahabat-sahabat lama, dan berbagi energi positif. Walaupun secara finansial belum terlalu menghasilkan, pengalaman serta kebersamaan yang diperoleh menjadi bentuk kepuasan tersendiri. Untuk kebutuhan materi, biasanya beliau mendapatkan penghasilan dari proyek lain seperti peliputan atau permintaan untuk membuat pertunjukan.

Selain aktif sebagai konten kreator, beliau juga memiliki hobi melukis. Beberapa lukisan karya teman dipajang di rumah beliau. Meskipun tidak dijual, lukisan-lukisan tersebut kerap ditampilkan dalam pameran. Di dunia film, beliau pernah terlibat sebagai kru maupun aktor. Beberapa di antaranya adalah menjadi sutradara 3 dalam film Almarhum, berperan sebagai ayah dalam film Hidup Ini Terlalu Banyak Kamu, serta Waktu Maghrib 2 sebagai ayah dari Yudis. Untuk satu adegan, biasanya beliau menerima bayaran sebesar satu juta rupiah.

Rumah beliau pun sering menjadi tempat berkumpul dan berkegiatan seni. Bersama istri beliau, Bu Tutik, rumah tersebut digunakan untuk kegiatan yoga (dengan biaya Rp15.000 per sesi), latihan teater, tari, hingga musik. Ruang ini menjadi wadah tumbuhnya kreativitas dan kolaborasi seni di lingkungan sekitar.






Comments

Popular posts from this blog

Kerajinan Gerabah

Kerajinan Rayung